Menikah itu bukan masuk taman bunga
Kata-kata itu courtesy mama yang (hampir) selalu mengeluarkan kalimat itu kalau mendengar ada artis cerai, atau bahkan kalau aku lagi menangis tersedu-sedu karena ada aja yang Abang lakukan yang tidak sesuai dengan nilai-ku.
Kenapa nilai dalam italic letters? Karena nilai yang aku maksud adalah nilai KU, yang benar buat ku, yang belum tentu benar buat setiap orang. Kalau tanpa italic rasanya aku merasa bahwa itulah yang paling benar.
Anyway, dengan perceraian yang teramat sangat banyak dilayar kaca atau bahkan dikehidupan yang dekat denganku saat ini, membuatku teramat sangat bersyukur bahwa akhirnya aku dan abang berada di tahap kita saat ini.
Tahap paliiiiing nyaman: aku mengerti bagaimana menanggapi hembusan nafas kesalnya tanpa harus ikut merasa kesal juga, atau berpikir ‘ini orang kenapa sih?’. Atau dia mengerti bagaimana melakukan hal-hal kecil yang bisa membuatku senang banget, seperti mandi sepulang kerja.
Mandi sepulang kerja? Duilah reseh amat jadi istri, cuma gara-gara suami gak mandi sepulang kerja jadi bete? oh iya. Kebiasaan kecil masing-masing yang kita lakukan sejak kecil ternyata bisa jadi amat sangat mengganggu pasangan kita loh, dan hal ini yang kemudian diartikan sebagai ‘berbeda prinsip’ dan kemudian cerai. Nanti aku balik lagi ke berbeda prinsip ini yah.
Untuk sampai ke tahap paling nyaman ini, adjustment yang kita lakukan amat sangat banyak, terlebih lagi kita berasal dari dunia yang amat sangat berbeda.
Di awal pernikahan ada sih saatnya aku ingin berhenti, bahkan sampai terlontar dari mulut. Walaupun menyesal, kejadian itu menjadi bagian dari perjalanan kita berdua. Saat itu, kita gak berkomunikasi sekitar 1 hari (untuk kita terbilang lama, karena kita bisa telpon2an berkali-kali dalam sehari), dalam diam itu sebenarnya aku dihadapkan pada dua pilihan: tetap pada perpisahan (karena toh itu ideku dan abang saat itu sudah setuju) atau menyesali dan kembali bersama lagi.
Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara kepada Allah SWT, dalam percakapan melalui shalat itu, aku kok seolah-olah mendengar suara ditelingaku. Suara itu bertanya: sebenarnya apa sih tujuan menikah? Untuk kebahagiaan dunia semata-mata? Benar juga sih, kan kemarin pas ijab kabul itu kita berjanji sama Allah SWT, bukan cuma berjanji sama abang. Masa sih, mau ingkar terhadap janji yang kita buat di hadapan Allah SWT.
Menikah itu ibadah. As simple as that.
Sekarang balik ke prinsip tadi, bagiku, prinsip adalah agamaku. Selama abang memiliki rasa takut yang sama kepada Allah SWT, maka kita masih memiliki prinsip yang sama. Buatku itu aja deal breaker-nya.
Yang lainnya? Proses.
Yang lainnya? Itu lah ujian pernikahan. Itu lah yang harus kita sama-sama jalani dan temukan titik kompromi-nya sehingga kita sama-sama nyaman, sama-sama senang, dan sama-sama bahagianya.
Well, hari ini tepat 4 tahun, aku dan abangku sudah berkali-kali mencoba menemukan titik kompromi itu, dan alhamdulillah-nya, sudah berkali-kali pula kami menemukan titik kompromi agar kami bisa tertawa sama-sama di akhir hari. Perjuangan kami masih panjang, tapi selama kita punya rasa takut itu, insya Allah kita aman.
Buatku, walaupun lagi susah, tetap aja tempatku ini taman bunga, tapi mungkin durinya lagi banyak aja.
Happy Anniversary Abang. May we last forever and will love more each day. Amen.
menikah bukan masuk ke taman bunga ???
yea.
setuju, pendapat yang sangat bijak.
kebahagiaan bukan hanya didapat dengan menikah, tapi seharusnya menikah membuat bahagia.
salam kenal, kikie !!!
d
Salam Kenal, Dayu?
Thanks for reading.
mbak..memang tidak mudah menjalani biduk rumah tangga, bukan ke egoisan yg didulukan tp bagaimana kita bisa menengahi semua perkara (yg kebanyakan berakhir dengan keributan)
Dan hanya kepada Allah kita selalu memohon agar biduk ini tidak karam
Alhamdulillah.. sudah 4 th mbak jalani itu semoga akan selamanya ya… semoga Allah selalu membantu mbak dan bang joni mengarungi biduk rumah tangga kalian…